Home Dirimu


     Sebelum kita melanjutkan apa pun yang kita kerjakan saat ini, cobaIah kita berhenti sejenak dan berpikir tentang jalan kehidupan yang sudah kita lalui. Seperti apakah kehidupan kita?
Orang jaman dahulu, kebesaran raja-rajanya dilihat dari seberapa luas daerah pemerintahannya, berapa banyak kuda maupun kereta perang yang dimilikinya, berapa kekayaannya. Semakin banyak yang mereka miliki, orang-orang atau kerajaan Iain akan semakin takut kepada mereka.
      


       Di jaman sekarang, coba Anda pikirkan apakah yang membuat orang-orang memandang kagum kepada Anda? Kesuksesan dalam berkarir mungkin, sehingga Anda berada di posisi penting di dalam sebuah perusahaan. Kalau tidak, karena kendaraan seharga 50Juta Anda yang begitu mewah. Atau mungkin karena Anda mempunyai suami / istri yang begitu menarik dan banyak orang yang iri dengan Anda. Atau mungkin karena prestasi-prestasi yang pernah Anda raih.
Bahkan banyak diantara kita yang menampilkan harta kekayaan, bahkan kemesraan bersama pasangan kita kehalaman media sosial dengan alasan untuk mendapatkan pengakuan atas orang lain.
Pengakuan apa? bahwa anda bukan orang susah dan miskin? bahwa anda hidup bahagia? bahwa anda adalah manusia yang baik? merasa bahwa anda lebih daripada orang lain.
Anda dengan secara sadar atau tidak sadar telah secara langsung merasa diri anda lebih tinggi, lebih bermartabat, lebih bahagia, lebih kaya dibandingkan orang lain yang secara langsung anda telah menjatuhkan kepercayaan diri orang lain.


Apapun itu, seringkali kita membuat diri kita kelihatan begitu hebat dan kita bermegah karenanya.


Sebagai tambahan, ada contoh bagus dari sebuah kitab keagamaan. Dimana Allah sangat tidak menyukai kesombongan karena merasa lebih suci dibandingkan orang lain.
Berikut kutipan kisahnya:

Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk Berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. "


Yang perlu disadari atas rasa tinggi kita tersebut adalah menyadari Bahwa kita hidup tidaklah lebih baik dari orang-orang sekitar kita. Kita tidak ada apa-apanya tanpa kehadiran mereka. kita masih bahagia karena bantuan mereka.
milikilah rasa mengasihi sesama manusia, menolong lebih baik daripada menjatuhkan bukan. 
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”

Kita merasa bahwa semuanya itu adalah hasil kerja keras kita dan tanpa sadar kita telah berdosa dengan melupakan bahwa Tuhan yang memenuhi itu semua.

Kita lupa diri dan menyangka semuanya adalah karena kita semataKita lupa bahwa jikalau bukan karena Tuhan, semuanya yang kita kerjakan akan sia-sia belaka.


“Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.”

      Kita kembali lagi berpikir dan mengingatkan diri kita bahwa yang harus kita megahkan bukanlah diri kita ataupun segala sesuatu yang ada pada kita, tapi bermegahlah di dalam Tuhan. Megahkanlah Tuhan di dalam hidupmu. Setelah membaca ini, kembalilah bekerja untuk saling membantu dan menolong sesama.
Karena dengan kasih, semua hal yang kau dapatkan adalah cinta dan damai. 


Baca juga :

No comments

Post a Comment

to Top